Selepas berlalunya periode COVID-19, lebih banyak kesadaran dan pemahaman masyarakat terbangun tentang gangguan “psikosomatis”, yaitu masalah pada tubuh fisik (soma) yang bermula dari pikiran (psiko), atau dalam istilah Psikologinya “somatisasi”.
Psikosomatis sering kali menjadi masalah yang berlarut-larut untuk ditangani. Hal ini karena ketidaktahuan mereka yang mengalami masalah ini, yang beranggapan bahwa masalah mereka adalah murni masalah fisik. Hal ini juga yang menjadikan mereka hanya berfokus mengupayakan penanganan pada aspek fisiknya.
Masalahnya adalah karena “akar” dari masalah yang sebenarnya berada di pikiran (psikis), maka sering kali penyembuhan pada tubuh fisik itu hanya menghasilkan efek sementara. Selepas menjalani penanganan fisik gejala ketidaknyamanan yang dialami reda atau berkurang. Namun seiring waktu, masalah itu kumat kembali karena akar masalah di pikiran belumlah teratasi.
Hipnoterapi menjadi salah satu modalitas pengobatan yang efektif untuk membantu penanganan masalah psikosomatis. Hal ini karena hipnoterapi menyasar perbaikan pada pikiran, tepatnya: pikiran bawah sadar.
Pikiran bawah sadar adalah level kesadaran dimana berbagai reaksi emosi dan “program” pikiran serta perilaku tersimpan. Di level kesadaran ini jugalah akar dari masalah psikosomatis tersimpan.
Dengan menggunakan hipnoterapi, kita bisa menggunakan kondisi hipnosis untuk mengetahui ada akar masalah apa di pikiran bawah sadar yang melatari masalah fisik seseorang sebelum kemudian menindaklanjutinya dengan menetralisirnya langsung di sumbernya.
Jika akar yang melatari masalah psikosomatis sudah reda, maka gejala yang sebelumnya terjadi pun akan teredakan dengan sendirinya.
Namun demikian, karena bagaimanapun hipnoterapi adalah metode pengobatan komplementer, pelaksanaan hipnoterapi untuk penanganan masalah psikosomatis hendaknya tetap dilakukan dengan penyertaan tenaga kesehatan formal yang berwenang, yaitu Dokter.
