Satu pertanyaan umum yang sering diungkapkan mereka yang awam dengan hipnoterapi adalah “Apakah klien tertidur dalam sesi hipnoterapi?
Hal ini tidak lepas dari dua hal.
Pertama, klien yang menjalani sesi hipnoterapi berada dalam kondisi terpejam dan ada kalanya sedemikian rileks sampai-sampai nampak seperti tidur.
Kedua, karena dalam proses hipnoterapi sendiri hipnoterapis cukup sering mengatakan kata “tidur”, seperti misalnya “Tidur lebih dalam lagi …” dimana hal ini menjadikan beberapa orang beranggapan sesi hipnoterapi dijalani dalam kondisi tidur.
Apakah demikian adanya?
Jawabannya adalah “tidak”. Sesi hipnoterapi dijalani dalam kondisi rileks, namun bukan tidur.
Ketika seseorang tidur, gelombang otaknya lebih dominan beroperasi di gelombang otak delta (0,5 – 4 Hz). Dalam kondisi ini seseorang cenderung mengalami keterbatasan dalam mendengar dan memahami instruksi yang ia dengar.
Hipnoterapi berlangsung di gelombang otak alfa (8 – 12 Hz) dan theta (4 – 8 Hz). Di gelombang otak ini justru terjadi peningkatan fokus dalam mendengar dan memahami instruksi.
Namun kenapa mereka yang menjalani sesi hipnoterapi terlihat “seperti sedang tidur”?
Hal ini karena untuk memasuki gelombang otak alfa dan theta, seseorang perlu berada di tingkat relaksasi yang cukup dalam secara fisik dan mental, dimana kondisi ini terlihat seperti tidur. Namun demikian bersama tingkat relaksasi ini juga terjadi peningkatan fokus, sehingga meski tubuh dan pikiran berada di kondisi yang rileks, sesungguhnya terjadi peningkatan reseptivitas atau daya penerimaan sugesti, yang menjadikan sugesti yang diterima dalam kondisi ini lebih mudah untuk diterima dan dijalankan oleh pikiran bawah sadar.
