Sembuh Dari GERD Dengan Hipnoterapi

Sembuh Dari GERD Dengan Hipnoterapi

Beberapa waktu lalu seorang klien menghubungi dan menyatakan ketertarikannya menjalani hipnoterapi untuk penanganan GERD, yaitu “gastroesophageal reflux disease“, kondisi dimana asam lambung naik sampai ke kerongkongan dan menyebabkan ketidaknyamanan fisik yang teramat sangat.

Mengingat GERD termasuk ke dalam permasalahan fisik, kami tentu tidak bisa begitu saja mengiyakan permintaan klien ini. Proses pengumpulan informasi lebih jauh pun dilakukan untuk mengetahui dari mana ketertarikan klien ini bermula.

Selidik punya selidik, klien ini ternyata mendapatkan referensi hipnoterapi untuk GERD dari salah seorang klien lama kami yang memang mendapatkan kesembuhan dari GERD selepas ia menjalani hipnoterapi.

Situasi ini termasuk situasi dimana kami perlu memperjelas kewenangan praktik dengan lebih memadai. Hal ini karena salah-salah dalam memahami, maka sesi hipnoterapi dilangsungkan dengan kewenangan yang tidak jelas dan menjadikan sesi itu sebuah malpraktik tersendiri.

Begini, GERD adalah kondisi yang baru bisa dipastikan setelah seseorang menjalani pemeriksaan dan diagnosis resmi dari DOkter yang menanganinya. Oleh karena itu hipnoterapis tidak bisa menyatakan seorang klien mengalami GERD.

Berikutnya, sebagai masalah medis, GERD adalah kondisi yang harus ditangani dengan pendekatan medis dan oleh tenaga medis yang berwenang, bukan oleh hipnoterapis. Dengan kata lain, permintaan klien ini tidaklah bisa kami penuhi.

Hal ini tentu memunculkan pertanyaan dalam diri klien ini. Bagaimana dengan kesaksian temannya yang sembuh dari GERD tersebut.

Maka kami pun menjelaskan garis besar penanganan yang rekan klien ini jalani (tentu dengan tetap menjaga kerahasiaan informasi rekan klien yang kami tangani tersebut). Garis besarnya adalah, rekan klien tersebut sebenarnya bukan datang untuk menjalani penanganan untuk pengobatan GERD. Ia sebenarnya datang untuk dibantu mengatasi rasa cemas berlebih yang sering ia rasakan di beberapa minggu terakhir. Rasa cemas berlebih ini sendiri menurutnya ada kalanya beririsan dengan sensasi GERD yang dialaminya.

Karena penanganan masalah medis adalah di luar kewenangan kami, maka fokus penanganan masalahnya kami perjelas dan sepakati bahwa hipnoterapi hanya ditujukan untuk mengelola rasa cemas berlebihnya, bukan GERD yang dialaminya. Maka, “akad” penanganan saat itu sebenarnya adalah “pengelolaan rasa cemas”.

Tanpa diduga, ketika rasa cemasnya tertangani dengan baik, ternyata gejala GERD yang semula sering dialami oleh klien ini ternyata ikut memudar. Hal ini yang menjadikan sesi hipnoterapi kala itu dianggap “menyembuhkan” gejala GERD yang klien ini alami.

Lalu bagaimana seandainya hipnoterapi diperbantukan untuk penanganann GERD? Kali ini karena fokusnya adalah “membantu”, maka kita perlu menyepakati bahwa konteks penggunaan hipnoterapi dalam kasus ini tidaklah menggantikan metode penanganan formal lain yang sudah ada, melainkan melengkapinya.

Sebagai pelengkap, karena aspek yang hipnoterapi sasar adalah aspek psikis, maka pada aspek psikis itulah penanganan difokuskan, yaitu pada permasalahan emosional yang bisa jadi ikut berkontribusi menyebabkan kemunculan GERD. Mengenai apakah nantinya seiring membaiknya kondisi emosional seseorang maka GERD-nya ikut membaik maka hal itu kita anggap sebagai “kontribusi” dari hipnoterapi, bukan menjadikan hipnoterapi sebagai “penyembuh utama”.

GERD menjadi gejala masalah yang kerap kali muncul karena dipengaruhi oleh faktor psikis, seperti trauma dan stres, namun ia juga muncul dengan disertai gejala fisik lain yang perlu dipahami secara medis. Maka sekali lagi, kalau pun hipnoterapi akan “diperbantukan” untuk penanganan GERD, maka fokus penanganannya adalah pada aspek psikis yang beririsan dengan gejala kemunculan GERD, bukan pada keberadaan dari GERD tersebut sebagai fokus utama penanganan.