Tidak seperti biasanya, kali ini muncul pertanyaan yang agak unik dari salah seorang calon klien, yaitu mengenai penggunaan hipnoterapi pada diri sendiri.
Calon klien ini rupanya melihat iklan tentang pelatihan hipnoterapi yang dewasa ini boleh dikatakan cukup bertebaran di berbagai media sosial dan penasaran apakah hipnoterapi bisa digunakan untuk diri sendiri. Jika bisa, maka menurutnya ia lebih baik belajar hipnoterapi untuk menangani permasalahannya sendiri.
Lagi-lagi, jawaban atas pertanyaan ini adalah jawaban yang berupa jawaban “ya” dan “tidak”.
Dikatakan “ya”, karena memang ada terapan dari hipnoterapi yang kita lakukan ke diri sendiri, yang disebut sebagai “self-hypnosis” atau “hipnosis pada diri sendiri”. Namun dikatakan “tidak” karena sesuai kata yang membentuknya, yang kita lakukan adalah “menghipnosis” diri sendiri, bukan “menghipnoterapi” diri sendiri.
Sebagai sebuah aktivitas, hipnosis dan hipnoterapi adalah dua aktivitas berbeda. Dalam hipnosis, kita melakukan hipnosis pada diri sendiri, yaitu melakukan rangkaian relaksasi fisik dan mental sampai kemudian kita memasuki kondisi hipnosis, atau kondisi perpindahan kesadaran dari pikiran sadar ke pikiran bawah sadar. Sementara hipnoterapi adalah lanjutan dari hipnosis, setelah kita memasuki kondisi hipnosis barulah kita menerapkan rangkaian teknik terapi dalam kondisi ini.
Bagaimana dengan self-hypnosis? Bukankah ia bisa menjadi satu bentuk terapi? Jawabannya adalah “tergantung”, atau tepatnya “tergantung pada apa yang kita lakukan dengan self-hypnosis ini.
Dalam konteks penyembuhan, self-hypnosis pada umumnya dipakai untuk merilekskan tubuh dan pikiran agar baik tubuh dan pikiran kita bisa beristirahat dengan lebih baik. Bagi mereka yang terkendala dengan banyak stresor (pemicu stres) dalam kesehariannya, atau yang sedang dalam kondisi pemulihan fisik atau mental, self-hypnosis menjadi satu alternatif untuk mempercepat proses pemulihan dengan mengijinkan tubuh dan mental beristirahat dengan optimal.
Dalam konteks terapi, self-hypnosis bisa dilakukan dengan disertai pengucapan pesan mental atau sugesti. Artinya, setelah kita berada dalam kondisi hipnosis, ada sugesti yang kemudian kita terima, baik itu diucapkan oleh diri sendiri, atau pun dengan mendengarkan audio rekaman tertentu. Meningkatnya reseptivitas pikiran bawah sadar dalam kondisi hipnosis menjadikan sugesti ini lebih mudah diterima dan harapannya ada reaksi perubahan yang dihasilkan di dalam pikiran bawah sadar sebagai hasil dari penerimaan sugesti ini.
Namun demikian, tetap saja ada batasan dalam penggunaan sugesti dalam self-hypnosis ini, yang terbagi menjadi dua batasan umum.
Pertama, batasan dalam penerimaan sugesti dengan cara diucapkan sendiri. Hal ini berlaku jika dalam proses self-hypnosis sugesti perubahan dilakukan dengan cara kita sendiri yang mengucapkannya. Yang terjadi adalah adanya atensi yang terpecah, antara kesadaran kita yang mengucapkan sugesti dan kesadaran kita yang menerima sugesti. Hal ini menjadikan kedalaman kondisi hipnosis menjadi “terpecah” sehingga dampak dari penerimaan sugesti tidak berlangsung optimal. Sehubungan dengan batasan ini, hal ini memunculkan kesimpulan bahwa penerimaan sugesti dalam self-hypnosis dengan cara mendengarkan audio sugesti masihlah lebih baik.
Kedua, batasan dalam “jangkauan” sugesti, meskipun sugesti yang diterima adalah sugesti yang bersifat audio rekaman. Beberapa permasalahan mungkin saja bisa terselesaikan cukup dengan sugesti karena program di pikiran bawah sadar yang melatari masalah itu tergolong “ringan”, sehingga cukup dengan kekuatan sugesti pun permasalahan yang ada bisa terselesaikan.
Sebaliknya, beberapa permasalahan bisa tergolong kompleks, yang menjadikan kekuatan sugesti semata belumlah cukup kuat untuk menghasilkan perubahan. Dalam praktik yang kami jalankan, kami menggunakan hipnoterapi berbasis eksplorasi pikiran bawah sadar dimana kami menerapkan serangkaian teknik untuk mengungkap akar masalah di pikiran bawah sadar yang terbentuk dari peristiwa di masa lalu, yang kemudian melatari permasalahan seseorang di masa kini. Baru setelah akar masalah itu diungkaplah akar masalah itu kemudian “dinetralkan” dengan teknik terapi spesifik agar pikiran bawah sadar “bersih” dan siap menerima program baru yang lebih sehat dan memberdayakan.
Ketika permasalahan yang dialami cukup kompleks adanya dan kekuatan sugesti tidak cukup, dalam skala ringan yang bisa terjadi adalah “tidak terjadi perubahan apa pun”. Dalam skala yang lebih kompleks, hal yang cukup fatal bisa terjadi, yaitu muncul resistensi dari pikiran bawah sadar, dimana pikiran bawah sadar “berontak” melawan sugesti perubahan yang diterima. Resistensi ini di kadar tertentu bisa saja menimbulkan reaksi yang tidak menyenangkan, termasuk reaksi fisik, bisa dalam bentuk mual, pusing, dan bahkan penurunan kondisi fisik lainnya.
Hipnoterapi untuk diri sendiri, melalui self-hypnosis contohnya, adalah hal baik untuk dipelajari. Namun akan tetap ada batasan yang perlu kita pahami. Bagaimanapun juga manusia adalah makhluk sosial. Selalu ada masa dimana kita memerlukan bantuan dari sesama manusia lain untuk membantu mengatasi persoalan kita, termasuk dalam konteks hipnoterapi.
