Permasalahan pada anak sering kali menjadi kegelisahan tersendiri bagi para orang tua, yang kemudian membawa mereka mencari pertolongan, salah satunya yaitu melalui hipnoterapi.
Seperti apa hipnoterapi bisa dilakukan pada anak-anak, khususnya anak kecil?
Tulisan ini dibuat untuk menjelaskan dinamika penggunaan hipnoterapi pada anak-anak, khususnya anak kecil.
Mari langsung memulai dari pertanyaan pertama, apakah hipnoterapi bisa dilakukan pada anak-anak, khususnya anak kecil?
Jawabannya adalah “ya” dan “tidak”.
Kenapa bisa ada dua jawaban? Mari kita coba pahami lebih jauh.
Pertama, hipnoterapi memerlukan komunikasi yang baik, yang disertai tingkat fokus dan nalar yang baik untuk memahami instruksi. Dalam hal ini, usia anak termasuk ke dalam hal yang menentukan kesemua hal ini. Jika usia anak masih terlalu kecil sehingga ia belum bisa berkomunikasi dengan baik, belum bisa fokus pada arahan, belum bisa menalar instruksi dengan baik, maka sudah tentu hal ini menjadikan hipnoterapi tidak bisa dilakukan.
Tidak ada patokan berapa usia anak yang dikatakan ideal untuk menjalani hipnoterapi, karena setiap anak memiliki kematangan fokus dan komunikasinya masing-masing. Namun secara umum, kami mendapati usia 9 tahun adalah usia yang tergolong umum sebagai usia dimana anak sudah mulai bisa fokus dengan baik dan berkomunikasi dengan sama baiknya. Jika ternyata anak sudah memiliki fokus yang baik dan mampu berkomunikasi dengan baik, maka hipnoterapi bisa dilakukan, tentunya tetap dengan memertimbangkan riwayat kesehatan fisik dan psikis anak.
Kedua, sering kali masalah anak adalah “cerminan” dari masalah orang tua. Tidak ada anak yang bermasalah. Di balik anak yang bermasalah, pastilah ada perilaku orang tua yang lebih bermasalah lagi, yang menjadikan anak melakukan perilaku yang dianggap bermasalah itu.
Hipnoterapi pada anak akan sangat justru dipengaruhi orang tua. Artinya, bisa jadi bukan anak yang memerlukan hipnoterapi, melainkan orang tua. Ketika masalah orang tua terselesaikan, sering kali masalah anak terselesaikan dengan sendirinya.
Bagaimana jika orang tua tidak mau kooperatif untuk menyadari letak permasalahan dan kelalaiannya yang menyebabkan anak jadi bermasalah? Hal ini menandakan penanganan tidak bisa dilakukan. Karena yang orang tua lakukan bukanlah mencari solusi, melainkan pelarian agar ia bisa menghindari masalahnya. Kalau pun situasi jenis ini ditangani, hanya soal waktu sebelum masalah yang sama—dan bahkan lebih parah—muncul kembali di kemudian hari.
Jika ternyata permasalahan pada orang tua sudah tertangani namun masalah pada anak belum kunjung mereda, maka waktunya penanganan difokuskan pada anak, dengan catatan: anak dalam kondisi sudah mampu berkomunikasi dengan baik, bisa fokus pada arahan, bisa menalar instruksi dengan baik.
Bagaimana jika belum, karena kondisinya masih terlalu kecil misalnya? Disinilah peran kolaborasi diperlukan dengan tenaga kesehatan formal, yaitu Psikolog anak. Di sini orang tua bisa mencari tahu atau berkonsultasi dengan Psikolog anak tentang hal-hal yang bisa mereka lakukan, atau stimulus yang perlu mereka hadirkan pada anak, untuk menyiasati permasalahan anak.
Dalam praktik yang kami jalankan, kami berkolaborasi dengan Dokter dan Psikolog, semata agar penanganan klien selalu terpantau dari perspektif tenaga kesehatan formal, termasuk dalam penanganan kasus anak-anak. Dalam kasus permasalahan pada anak, kami kerap kali menyarankan orang tua untuk pertama-tama mengkonsultasikan dulu masalah anaknya dengan Psikolog anak yang menjadi rekanan kami, agar orang tua mendapatkan gambaran yang lebih utuh terhadap permasalahan anak. Baru setelahnya berdasarkan referensi dan informasi dari Psikolog anak tersebut kami menindklanjuti lebih jauh hal-hal yang sekiranya perlu disikapi dengan hipnoterapi.
